Sejarah Budaya Masyarakat Silalahi . Bupati Dairi : Melestarikan Budaya agar di Kenal Dunia

 

Dairi.Bara News – Bertempat di lokasi Tugu Silahi Sabungan,Bupati Dairi memberikan sambutan di acara Hahomion Martua Omaoma Pagabe Taon

Bila masyarakat Silahisabungan ingin terkenal sampai ke dunia Internasional, jejak-jejak sejarah budaya itu harus bisa diceritakan. Untuk itu kepada dinas parawisata bisa menggali melalui orang-orang tua di Silahisabungan.

Demikian disampaikan Bupati Dairi Dr Eddy Keleng Ate Berutu saat menghadiri acara Hahomion Martua Omaoma Pagabe Taon yang dilaksankan di lokasi Tugu Silahisabungan Desa Silalahi III, Kabupaten Dairi, Selasa (22/3/2022).

“Kita juga telah membuat buku pertama tentang ulos Silalahi, ini untuk menunjukan kepada dunia bahwa masyarakat Silalahi punya ulos. Kita akan gali antropologi dan budayanya,” kata Eddy Berutu.

Disebutkannya, Pemkab Dairi sangat mendukung apa yang diinginkan masyarakat dikawasan Tao Silalahi (Danau Toba) khusunya kegiatan adat dan budaya, seperti yang dilaksankan saat ini. Semoga keinginan dan doa yang telah dipanjatkan tadi dikabulkan Tuhan Yang Esa.

Dengan adanya Danau Toba, membuat Silahisabungan masuk dalam kawasan geopark Toba Geosite bagian dari Kaldera Toba sebagai Unesco Global Geoparks.

“Jadi, kita bangga karena Silahisabungan menjadi perhatian dunia. Apalagi kita punya adat dan budaya yang diwariskan para leluhur kita yang masih tetap terpelihara sampai sekarang,” ucap Eddy Berutu.

Lebih lanjut disampaikannya, adanya covid-19 membuat banyak pembangunan terhenti, khususnya di Kabupaten Dairi. “Kita yang beranda di Danau Toba ini ada di beranda belakang, sehingga kita agak terlambat pembangunannya. Kita mau ngebut tetapi covid datang, jadi agak tertunda,” sebutnya.

Pemkab Dairi akan terus berusaha, mudah-mudahan setelah covid-19 mereda, pembangunan bisa kita datangkan. Mudah-mudahan bila tidak ada halangan, tahun ini jalan masuk dari Simpang Silalahi Lae Pondom sampai ke Silahisabungan akan di perlebar dan di hotmix,”

“Itu salah satu usulan kita kepada pak Luhut Panjaitan saat datang ke Dairi, karena akses jalan sangat penting, agar wisatawan merasa nyaman saat berkunjung ke Silahisabungan,” ucap Eddy Berutu.

Kalau Silahisabungan ingin terkenal sampai ke internasional , jejak-jejak sejarah itu harus bisa di ceritakan. Untuk itu kepada dinas parawisata bisa menggali melalui orang-orang tua di Silahisabungan untuk dibukukan.

“Kita juga telah membuat buku pertama tentang ulos Silalahi, ini untuk menunjukan kepada dunia bahwa masyarakat Silalahi punya ulos. Kita akan gali antropologi dan budayanya,” terang Eddy Berutu.

Sementara itu Raja Bius I, Liber Pintu Batu saat diminta tanggapannya terkait kegiatan itu mengatakan, doa dan ritual yang dilakukan masyarakat Silahisabungan secara turun temurun ini untuk meminta agar hasil panen pertanian khususnya bawang merah dan perikanan dari danau melimpah.

“Kita meminta kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar hasil panen melimpah dan warga dijauhkan dari segala penyakit dan marah bahaya,” kata Raja Bius I, Liber Pintu Batu.

Tradisi ini sudah dilaksanakan sejak jaman dulu oleh para leluhur.

Dalam ritual ini juga dilakukan acara Manguras horbo atau memberkati kerbau yang akan disembelih agar orang yang memakannya sehat-sehat.

“Daging kerbau ini nantinya dimakan bersama dan sebagian dibagikan kepada warga melalui Raja Turpuk masing-masing,” sebutnya.

Acara seperti ini biasanya dilaksankan setiap tahun, agar hasil panen terus melimpah dan warga Dairi khususnya di Silahisabungan dijauhkan dari segala marah bahaya.

“Namun karena keterbatasan biaya acara ini terhenti dan baru bisa kita laksanakan lagi sekarang,” ungkapnya.

“Kita meminta kepada Pemkab Dairi, bisa membantu kegiatan ini sehingga bisa dilaksankan setiap tahunnya,” sambungnya.

Sementara itu Marsiso Sihaloho (70) salah satu tokoh masyarakat menjelaskan, Hahomion Martua Omaoma Pagabe Taon artinya berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berinteraksi dengan roh para leluhur untuk meminta hasil panen yang melimpah dan dijauhkan dari segala marah bahaya.

“Manusia terdiri dari daging dan roh, daging akan mati tetapi roh tetap hidup. Makanya di acara ini, kita berkomunikasi dengan roh para leluhur,” terangnya.

Kegiatan yang berlangsung sejak pagi diawali dengan pawai yang berangkat dari halaman Gereja Katolik menuju lokasi acara di Tugu Silahisabungan dengan mengarak kerbau yang akan disembelih. Diakhir kegiatan dilakukan tor-tor somba dan mamoholi yang diiringi gondang Silalahi.

Hadir Dalam acara tersebut, Bupati Dairi Dr Eddy Keleng Ate Berutu, Kadis Parbudpora Dairi Rahmat Syah Munthe, Camat Silahisabungan Landong Napitu, Para Kepala Desa di Silahisabungan, Ketua Gema Kasih Mula Tua Sinurat, Raja Bius I dan II Tkoh Masyarakat dan Raja Turpuk.(Luga Siregar)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed